Ikhlas dalam pandangan islam

 

IKHLAS

Ada yang mengatakan bahwa hidup itu tidak mudah, hidup itu lelah dan selalu ada masalah. Setiap manusia pasti mengalami masalah. Ada yang memiliki masalah dalam pendidikan, masalah dalam keluarga, masalah dalam keuangan, dan berbagai masalah lainnya yang mungkin datang. Namun, setiap manusia mempunyai cara yang berbeda dalam mengatasi masalahnya. Ada yang merasa terpuruk, tetapi ada juga yang membuat mereka merasa lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dalam hal ini, kesabaran merupakan hal penting yang harus ditanamkan dalam hati selama menghadapi cobaan. Islam mengajarkan untuk melatih keihklasan dalam menghadapi beragam cobaan dalam hidup. Menurut ilmu tasawuf, ikhlas dipahami sebagai penunggalan dari Al Haqq, di mana mengarahkan segala sesuatu untuk orientasi ketaatan semata-mata hanya karena Allah. Dengan ikhlas, maka manusia tidak akan tersesat ke jalan yang tidak diridhoi Allah Swt. sehingga akan terhindar dari sifat sombong ataupun riya’ seperti yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an

(٤٠)   قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙإِ ( ۳۹)إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ    

Artinya : “Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hambaMu dari antara mereka yang ikhlas.” (QS.Al-Hijr: 39-40).

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil dan batu-batu kecil, Ketika sudah bersih maka beras yang dimasak akan nikmat untuk dimakan. Namun, ketika beras itu masih kotor saat nasi dikunyah maka akan tergigit kerikil dan batu kecil tersebut. Sama halnya dengan keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan membuat tidak nikmat, pelakunya akan mudah menyerah dan kecewa karena mereka hanya mengharapkan pujian dan bukan berlandaskan ikhlas karena Allah Swt.

Oleh karena itu, ikhlas adalah ketika ia mengerahkan seluruh perkataan, perbuatan hanya karena Allah Swt. semata dan mengharap ridho-Nya, tanpa melihan pada kekayaan dunia, kedudukan, kemajuan ataupun kemunduran. “Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Ikhlas juga memiliki tingakatan. Tingkatan pertama, atau tingkatan paling rendah adalah ketika seseorang beribadah karena Allah Swt. namun berharap untuk mendapatkan imbalan dalam hal duniawi. Misalnya ketika seseorang rutin melakukan sholat dhuha dengan harapan mendapatkan kemudahan rezeki dari Allah Swt.

Ikhlas tingkatan kedua, ialah ketika seseorang melakukan amal ibadah karena Allah Swt. namun masih memiliki keinginan agar ibadahnya kelak mendapatkan pahala yang besar dari Allah Swt. atau berharap agar kelak di hari kiamat termasuk ke dalam golongan orang yang terselamatkan.

Ikhlas tingkatan ketiga, atau tingkatan paling tinggi ialah ketika seseorang melakukan ibadah tanpa adanya keinginan dan hanya melakukannya semata-mata karena kecintaannya kepada Allah Swt. sikap tulus yang murni seperti halnya segelas air putih yaitu bening dan bersih. Tentu bukan suatu hal yang mudah, namun ketika seseorang mampu melakukan ini makai a termasuk golongan yang sungguh dekat dengan pertolongan Allah Swt. dan termasuk orang-orang yang dicintai oleh Allah Swt.

 

         

 

Komentar